Laporan Praktikum



UJI KUALITATIF KARBOHIDRAT
Dan
HIDROLISIS KARBOHIDRAT

       I.            Latar Belakang
Karbohidrat merupakan senyawa karbon yang banyak dijumpai di alam,terutama sebagai penyusun utama jaringan tumbuh-tumbuhan. Senyawa karbohidrat merupakan senyawa polihidroksi aldehid atau polihidroksi keton yang mengandung unsur-unsur C, H, dan O dengan rumus empiris (CH2O)n.
Pada tumbuh-tumbuhan, karbohidrat disentesis dari CO2 dan H2O melalui proses fotosintesis yang terjadi di dalam klorofil. Karbohidrat yang dihasilkan merupakan cadangan makanan yang disimpan di dalam akar, batang dan biji yang sebagian besar merupakan amilum atau selulosa.
Dalam tubuh manusia sebagian besar karbohidrat terdapat dalam bentuk glikogen yang tersimpan dalam hati dan jaringan otot. Glikogen dalam tubuh manusia berfungsi sebagai cadangan energi. Melalui mekanisme kerja hormon dan aktivitas enzim, glikogen dipecah menjadi unit-unit glukosa.
Berdasarkan monomer yang menyusunnya, karbohidrat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu:
a.       Monosakarida :karbohidrat yang paling sederhana yang terdiri dari 1 molekul berupa aldosa atau ketosa. Contohnya :glukosa, fruktosa, dan galaktosa.
b.      Oligosakarida :karbohidrat yang tersusun dari 2 sampai 10 satuan monosakarida. contohnya : sukrosa, disakarida dari glukosa dan fruktosa atau laktosa yang terdiri dari glukosa dan galaktosa.
c.       Polisakarida : karbohidrat yang tersusun lebih dari 10 satuan monosakarida yang dapat berupa rantai lurus maupun bercabang. Contoh karbohidrat yang termasuk kelompok ini adalah amilum dan selulosa, hidrolisis sebagiam polisakarida akan menghasilkan senyawa oligosakarida seperti dekstrin.
Pada umumnya karbohidrat merupakan senyawa padat berupa serbuk putih yang mempunyai sifat sukar larut dalam pelarut non polar, tetapi mudah larut dalam air, kecuali polisakarida (selulosa) yang tidak larut dalam air. Monosakarida dan disakarida mempunyai sifat manis sehingga sering disebut gula. Kebanyakan monosakarida dan disakarida kecuali fruktosa adalah kelompok gula pereduksi. Sifat mereduksi ini disebabkan adanya gugus aldehid atau keton bebas dalam molekulnya. Larutan gula perduksi bereaksi positif dengan pereaksi fehling, pereaksi Tollens maupun pereaksi benedict.
      Perlakuan oleh asam anorganik pekat akan menyebabkan polisakarida terhidrolisis menjadi monosakarida. Dehidrasi monosakarida jenis pentosa oleh asam sulfat pekat akan membentuk furfural dan golongan heksosa menghasilkan hidroksi metil furfural. Dengan penambahan alfa-naftol dalam alkohol, senyawa tersebut akan membentuk kompleks berwarna ungu. Reaksi ini khas untuk identifikasi awal keberadaan karbohidrat.
      Kebanyakan karbohidrat yang ditemukan di alam terapat sebagai polisakarida dengan berat molekul tinggi. Beberapa polisakarida berfungsi sebagai bentuk penyimpan bagi monosakarida, sedangkan yang lain berfungsi sebagai unsur struktural di dalam dinding sel dan jaringan pengikat. Hidrolisis sempurna oleh asam atau oleh enzim spesifik terhadap polisakarida menghasilkan monosakarida atau senyawa turunannya. Polisakarida yang merupakan karbohidrat kompleks mempunyai sifat kurang larut dalam air dingin. Pemanasan suspensi pati secara bertahap dapat membentuk larutan koloid dan akhirnya menjadi pasta.
Pati banyak terdapat dalam tumbuh-tumbuhan terutama terdapat pada biji, buah dan umbi. Di dalam sel, pati membentuk granula yang secara mikroskopis memiliki bentuk yang berbeda untuk setiap sumber. Pati terbagi menjadi dua fraksi yang dapat dipisahkan dengan air panas. Fraksi terlarut disebut amilosa (±20%) dengan struktur molekul linier, terdiri dari rantai unit-unit D-glukosa yang panjang digabungkan oleh ikatan α(1→4). Rantai ini beragam dalam berat molekulnya, dari beberapa ribu sampai 500.000. Sebaliknya fraksi yang tidak larut disebut amilopektin (±80%) dengan struktur bercabang, memiliki berat molekul yang tinggi. Ikatan glikosidik yang menggabungkan residu glukosa yang berdekatan di dalam rantai amilopektin adalah ikatan α(1→4), tetapi tiitk percabangan amilopektin merupakan ikatan α(1→6). Dengan penambahan iodium, fraksi amilosa akan memberikan warna biru sedangkan fraksi amilopektin berwarna merah ungu. Warna biru yang dibentuk oleh amilosa dan iodium stabil dalam air dingin. Pemanasan akan menyebabkan pelepasan iodium dari struktur amilosa sehingga warna biru menjadi hilang.
Dalam suasana asam dan dengan pemanasan, pati akan terhidrolisis menjadi senyawa karbohidrat yang lebih sederhana. Hidrolisis pati dengan asam klorida akan menghasilkan molekul glukosa sedangkan hidrolisis pati oleh enzim akan menghasilkan maltosa yang selanjutnya akan menghasilkan glukosa. Pengujian laju hidrolisis dapat dilakukan dengan penambahan iodium. Tahap pada saat larutan hasil hidrolisis sudah tidak menimbulkan warna biru dengan iodium disebut titik akromatik.




    II.            Tujuan

1.      MENGETAHUI ADANYA KARBOHIDRAT DALAM SUATU SAMPEL
2.      MENGETAHUI PRINSIP-PRINSIP IDENTIFIKASI KARBOHIDRAT
3.      MENGETAHUI SIFAT KIMIA KARBOHIDRAT
4.      MENGETAHUI PRINSIP REAKSI HIDROLISIS KARBOHIDRAT
5.      MENGIDENTIFIKASI HASIL REAKSI HIDROLISIS KARBOHIDRAT
 III.            
         Metode
UJI KUALITATIF KARBOHIDRAT
a.       Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah stopwatch, penjepit, tabung, alat pemanas listrik, becker glass 500 mL, tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet tetes.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah larutan Amilum 1%, Sukrosa 1%, Laktosa 1%, Glukosa 1%, Fruktosa 1%, Pereaksi Molisch, Pereaksi Benedict, Pereaksi Barfoed, Pereaksi Seliwanoff, asam sulfat pekat dan larutan Iodium.
b.      Prosedur Kerja
·         Uji Molisch (membuktikan adanya karbohidrat)
Sebanyak 15 tetes larutan uji dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Lalu ditambahkan 3 tetes peraksi molisch, dicampurkan dengan baik. Tabung reaksi dimiringkan 45°, lalu dialirkan H2SO4 pekat sebanyak 1 mL dengan hati-hati melalui dinding tabung agar tidak bercampur.diamati perubahan yang terjadi, dan dicatat dalam lembar pengamatan. (reaksi positif ditandai dengan terbentuknya cincin furfural berwarna ungu pada kedua lapisan)
·         Uji Iodium (membuktikan adanya amilum, glikogen, dan dekstrin)
Sebanyak 15 tetes larutan uji dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Lalu ditambahkan 2 tetes larutan Iodium, setelah  itu diamati perubahan warna yang terjadi, dan dicatat dalam lembar pengamatan. (reaksi positif ditandai dengan pembentukan kompleks senyawa berwarna biru untuk amilum, merah kecokelatan untuk glikogen dan merah anggur untuk dekstrin)
·         Uji Benedict (menentukan adanya gula pereduksi)
Sebanyak 5 tetes larutan uji dan 15 tetes pereaksi benedict dicampurkan dengan baik di dalam tabung reaksi. Lalu dididihkan di penangas air mendidih selama kurang lebih 5 menit. Setekah itu didinginkan perlahan-lahan, selanjutnyta diamati warna endapan yang terbentuk dan dicatat dalam lembar pengamatan. (reaksi positif ditandai dengan timbulnya endapan warna biru kehijauan, kuning atau merah bata tergantung pada gula pereduksi yang ada)
·         Uji Barfoed (membedakan antara monosakarida dan disakarida)
Sebanyak 10 tetes larutan uji dan 10 tetes larutan barfoed dicampurkan dengan baik di dalam tabung reaksi. Lalu dipanasakan campuran tersebut dalam penangas air mendidih selama 5 menit. Setelah itu diamati warna yang terbentuk, dan dicatat dalam lembar pengamatan. (reaksi positif ditandai dengan terbentuknya endapan Cu2O berwarna merah bata)
·         Uji Seliwanoff
·         Dimasukkan sebanyak 10 tetes larutan uji dan 15 tetes pereaksi seliwanoff ke dalam tabung reaksi. Lalu campuran dipanaskan dalam penangas air mendidih selama 1 menit. Setelah itu, diamati perubahan warna yang terjadi, dicatat dalam lembar pengamatan. (reaksi positif ditanda dengan perubahan warna larutan menjadi merah orange)

HIDROLISIS KARBOHIDRAT
a.       Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah kertas lakmus, pemanas listrik, becker glass 500 mL, tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet ukur 5 mL, pipet tetes, pipet tetes porselen, dan penjepit tabung.
Bahan yang digunakan adalah larutan amilum 1%, larutan iodium, pereaksi benedict, dan HCl 2N.
b.      Prosedur Kerja
Sebanyak 5 mL amilum dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan dengan 2,5 mL HCl 2N. Lalu dicampurkan dengan baik dan dimasukkan ke dalam penangas air mendidih. Setelah 3 menit, 2 tetes larutan diambil ke dalam plat tetes porselen dan ditambahkan 1 tetes larutan iodium. Kemudian dicatat perubahan warna yang terjadi dan ditulis dalam lembar pengamatan. Setelah itu dilanjutkan pemanasan dan diuji dengan larutan iodium setiap 3 menit sampai warna larutan kuning pucat. Lalu ditentukan kapan titik akromatik terjadi dan dipanaskan kembali selama ± 5 menit kemudian didinginkan. Diambil 2 mL larutan hasil hidrolisis, dinetralkan dengan NaOH 2% dan diuji dengan kertas lakmus. Diuji larutan netral dengan pereaksi benedict dan dicatat perubahan warna yang terjadi.

PEMBAHASAN

1.      Uji Molisch
No.
Zat Uji
Hasil Uji Molisch
Karbohidrat (+/-)
1
Amilum 1 %
Terbentuk cincin berwarna ungu
+
2
Sukrosa 1 %
Terbentuk cincin berwarna ungu
+
3
Laktosa 1 %
Terbentuk cincin berwarna ungu
+
4
Fruktosa 1 %
Terbentuk cincin berwarna ungu
+
5
Glukosa 1%
Terbentuk cincin berwarna ungu
+


Pada uji Molisch, semua zat uji adalah termasuk karbohidrat. hal tersebut dapat dilihat pada terbentuknya cincin berwarna ungu.
2.      Uji Iodium

Pada masing-masing zat uji memiliki indikasi yang berbeda-beda. dari enam zat uji, Amilum, positif mengandung polisakarida.
Untuk uji Iodium, didapat hasil sebagaimana tertera di tabel :

No.
Zat Uji
Hasil Uji Iodium
Polisakarida (+/-)
1
Amilum 1 %
Terbentuk warna Biru Tua
+
2
Sukrosa 1 %
Terbentuk warna Kuning
-
3
Laktosa 1 %
Terbentuk warna jernih
-
4
Fruktosa 1 %
Terbentuk warna Kuning
-
5
Glukosa 1%
Terbentuk warna Kuning
-

Uji iodium ini menunjukan reaksi yang positif terhadap amilum karena amilum merupakan salah satu contoh dari molekul polisakarida. Amilum terdiri dari banyak monomer glukosa.
Pada uji iodium amilum dapat menghasilkan reaksi positif dengan menghasilkan warna biru karena pada amilum terdapat unit-unit glukosa yang membentuk rantai heliks karena adanya ikatan dengan konfigurasi tiap unit glukosanya. Bentuk ini menyebabkan pati dapat membentuk kompleks dengan molekul iodium yang masuk kedalam spiralnya.

3.      Uji Bennedict

Pada uji Benedict, indikator terkandungnya Gula Reduksi  adalah dengan terbentuknya endapan berwarna merah bata. hal teresebut dikarenakan terbentuknya hasil reaksi berupa Cu2O.

No.
Zat Uji
Hasil Uji Benedict
Gula Reduksi (+/-)
1
Amilum 1 %
Terbentuk warna biru
-
2
Sukrosa 1 %
Terbentuk warna biru dan tidak terbentuk endapan
-
3
Laktosa 1 %
Terbentuk endapan merah bata
+
4
Fruktosa 1 %
Terbentuk endapan merah bata
+
5
Glukosa 1%
Terbentuk endapan merah bata
+

Berikut reaksi yang berlangsung:
       O                                          O
       ║                                          ║
R—C—H  + Cu2+ 2OH- →  R—C—OH + Cu2O
Gula Pereduksi            Endapan Merah Bata

Reaksi positif pada percobaan ini terdapat pada terbentuknya endapan merah bata didalam sampel hal ini ditandai karena adanya gula pereduksi pada laktosa, glukosa dan fruktosa. Gula pereduksi adalah golongan gula yang memiliki kemampuan untuk mereduksi suatu oksidator karena gugus aldehida dan keton nya bebas berada dalam keadaan kesetimbangan pada rantai terbuka.

4.      Uji Barfoed
Pada uji barfoed dalam asam, polisakarida atau disakarida akan terhidrolisis menjadi bagian kecil monomernya, dan hal ini lah yang menjadi alas an untuk membedakan antara monosakarida, disakarida dan polisakarida. Reaksi monosakarida dengan fosfomolibdat menghasilkan warna biru. Sedangkan polisakarida yang terhidrolisis oleh asam akan memiliki kadar monosakarida yang sedikit sehingga warna biru nya tidak terlihat. Reaksi polisakarida menghasilkan endapan warna merah bata pada larutan uji laktosa glukosa dan fruktosa.
No.
Zat Uji
Hasil Uji Barfoed
Monosakarida (+/-)
1.       
Sukrosa 1 %
tidak terbentuk endapan (larutan warna biru)
-
2.       
Laktosa 1 %
Terbentuk endapan merah bata
+
3.       
Fruktosa1 %
Terbentuk endapan merah bata
+
4.       
Glukosa1 %
Terbentuk endapan merah bata
+

5.      Uji Seliwanoff
Pada uji Seliwanof, ketosa terdeteksi pada zat uji Fruktosa dengan terbentuknya warna jingga; yaitu karena terbentuknya resorsinol.

No.
Zat Uji
Hasil Uji Seliwanof
Ketosa  (+/-)
1
Sukrosa 1 %
orange
+
2
Fruktosa 1 %
orange
+
3
Glukosa 1 %
Bening
-
4
Laktosa
Bening
-

Hidrolis Karbohidrat

Perlakuan
Waktu Hidrolisis
Hasil Uji Iodium
Keterangan
5ml amilum + HCl 2N + Pemanasan
3 Menit
Ungu Kehitaman
amilosa
6 Menit
Ungu Kehitaman
amilopektin
9 Menit
Ungu Kehitaman
amilopektin
12 Menit
Merah kecoklatan
eritrodekstrin
15 Menit
coklat
akrodekstrin
18 Menit
coklat pucat
maltosa
21 Menit
kuning
Glukosa

            Pada percobaan ini dilakukan hidroolisis karbohidrat menggunakan HCl 2N. berdasarkan teori bronsted lowry, dikatakan bahwa hidrolisis merupakan proses protolisis yang melibatkan molekul air dan proteolit lemah yang bermuatan.
            Dalam hidrolisis karbohidrat, pati akan mengalami proses pemutusan rantai oleh enzim atau asam selama pemanasan menjadi molekul – molekul yang lebih kecil. Ada beberapa tingkatan dalam reaksi hidrolisis tersebut. Mula-mula pati pecah menjadi unit rantai glukosa yang lebih pendek (6-10 molekul) yang disebut dekstrin. Dekstrin kemudian pecah lagi menjadi maltose yang kemudian pecah lagi menjadi glukosa.
            Pada percobaan ini juga dilakukan penentuan titik akromatik. Titik akromatik adalah titik dimana pati tersebut menunjukan warna yang lebih pudar saat dilakukan penetesan iodine yang menandakan bahwa pati tersebut telah terhidrolisis secara sempurna menjadi unit yang lebih kecil yaitu glukosa.
            Kemudian hasil hidrolisis tersebut di lakukan penetralan dengan NaOH yang dilakukan untuk menetralkan HCl yang ditambahkan pada proses pemutusan rantai (hidrolisis). Setelah larutan tersebut netral, kemudian dilakukan kembali dengan pengujian dengan diambil larutan yang telah dinetralkan, kemudian direaksikan dengan pereaksi bennedict dan dilakukan pemanasan kembali, hal ini menunjukkan adanya perubahan warna larutan menjadi merah bata, yang menandakan reaksi positif mengandung gula pereduksi, dan glukosa adalah contoh dari kelompok monosakarida yang memiliki kemampuan untuk mereduksi. Pemanasan diatas hanya dilakukan untuk mempercepat terjadinya atau jalannya reaksi antara bennedict dan hasil larutan netral dari hidrolisis pati.
Kesimpulan :
Kesimpulan dalam percobaan kali ini adalah :
·         Uji Molisch positif terhadap semua larutan uji.
·         Pada uji iodium, hanya amilum yang mengalami reaksi positif.
·         Uji benedict positif pada laktosa, glukosa dan fruktosa.
·         Uji seliwanoff positif pada sukrosa dan fruktosa.
·         Uji barfoed positif pada laktosa, glukosa dan fruktosa.
·         Titik akromatik = 21 menit
·         Penambahan NaOH dalam pemetralan = 3.5ml.
·         Hidrolisis pati mampu mengubah polisakarida menjadi monosakaroda ( pati – glukosa )

Daftar Pustaka :
·         Hart,Harold.1983.Kimia Organik.Jakarta : erlangga.
·         Hermanto, S.2012.Petunjuk Praktikum Biokimia 1. Jakarta : UIN Syahid.
Lehninger.1982.Dasar-dasar Biokimia.Jakarta : erlangga




PEMBUATAN LEM DARI SUSU CAIR

BAB I
PENDAHULUAN
Lem atau disebut juga perekat adalah senyawa semicair yang dapat merekatkan satu benda dengan benda lain. Oleh karena itu, lem dapat dikatakan sebagai senyawa kimia, juga sebagai senyawa organik dan senyawa-senyawa lainnya yang memiliki unsur perekat. Hal itu karena tidak semua lem terbuat dari bahan-bahan kimia. Ada beberapa yang dibuat dari unsur organik. Lem memiliki sifat semi cair, dimana lem berwujud fisik tidak padat (kering) tapi juga tidak cair (encer). Karena lem dapat terbuat dari molekul organic, oleh karena itu lem juga dapat terbuat dari susu yang didalamnya terdapat kasein. Kasein adalah protein. dan kita akan menemukannya di sekitar 80% dari protein dalam susu. Secara teknis, itu adalah garam kalsium elemen yang notabene memiliki kandungan logam. Kita dapat menemukan ini juga sebagai bahan dalam cat kuku.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Susu UHT
            Di Indonesia, konsumsi susu segar semakin meningkat. Pada umumnya susu dikonsumsi dalam bentuk olahan baik dalam bentuk cair (susu pasteurisasi, susu UHT) maupun susu bubuk. Sebagian besar peternakan sapi perah yang berkembang di Indonesia masih menerapkan cara beternak yang masih tradisional, sehingga masih terbatas peluang masyarakat mengkonsumsi susu segar yang memenuhi persyaratan dalam SNI. Sebagian besar susu cair yang beredar di pasaran dalam bentuk olahan, telah mengalami pasteurisasi. Analisis terhadap parameter fisikokimia susu cair pada Tabel 1 menunjukkan bahwa kadar lemak pada SNI susu cair baik susu segar, UHT, maupun pasteurisasi sebaiknya dibuat sama yaitu 3,0%, karena proses pengolahan susu pasteurisasi dengan susu UHT prinsipnya hampir sama, sehingga kemungkinan hilangnya lemak selama proses pengolahan hampir sama. pengolahan susu secara minimal (pasteurisasi dan UHT) sangat sedikit pengaruhnya terhadap mutu sensoris dan mutu gizinya. Susu pasteurisasi merupakan susu segar yang diberi perlakuan panas 63ºC–66ºC selama minimum 30 menit atau pemanasan 72ºC selama minimum 5 detik, kemudian segera didinginkan sampai 10ºC, selanjutnya diperlakukan secara aseptis dan disimpan pada suhu maksimum 4,4ºC. Susu jenis ini memiliki umur simpan sekitar 14 hari. Susu Ultra High Treatment (UHT) merupakan produk susu yang diperoleh dengan cara mensterilkan suhu minimal pada suhu 135ºC selama 2 detik, dengan atau tanpa penambahan bahan tambahan makanan yang diijinkan, serta dikemas secara aseptis. Sedangkan susu evaporasi, merupakan hasil olahan susu yang dibuat dengan menguapkan sebagian air dari susu segar atau dengan merekonstitusi susu bubuk dengan atau tanpa penambahan bahan lain yang diijinkan.



Susu Bubuk
Prinsip pembuatan susu bubuk adalah menguapkan sebanyak mungkin kandungan air susu dengan cara pemanasan (pengeringan). Tahap-tahap pembuatan susu bubuk adalah perlakuan pendahuluan, pemanasan pendahuluan, pengeringan dan pengepakan. Pada perlakuan pendahuluan yang harus dikerjakan adalah penyaringan, separasi dan standarisasi. Penyaringan bertujuan memisahkan benda-benda asing misalnya debu, pasir, bulu, dan sebagainya yang terdapat dalam susu. Separasi bertujuan untuk memisahkan krim dan susu skim. Terutama dikerjakan apabila ingin dibuat bubuk krim atau bubuk skim. Tujuan pemanasan pendahuluan adalah menguapkan sebagian air yang terkandung oleh susu, sampai mencapai kadar kurang lebih 45-50% saja. Alat yang digunakan untuk pemanasan pendahuluan adalah evaporator. Untuk memanaskan digunakan udara yang bersuhu antara 65-177oC tergantung jenis produk yang dibuat. Standarisasi adalah membuat susu menjadi sama komposisinya. Hasil susu dari peternak yang berbeda komposisinya dicampur sampai homogen yaitu dengan cara mengaduk ataupun dengan menuang susu dari wadah yang satu ke wadah yang lainnya. Ada dua macam (tipe) alat yang digunakan dalam pengeringan yaitu:
·         silindris (drum dryer)
·         semprotan
Macam-macam susu bubuk:
·         Susu penuh yaitu susu bubuk yang dibuat dari susu segar yang tidak mengalami separasi Kadar lemaknya 26% dan Kadar airnya 5%
·         Bubuk susu skim yaitu susu bubuk yang dibuat dari susu skim. Susu ini banyak mengandung protein, kadar airnya 5%
·         Bubuk krim atau bubuk susu mentega. Dibuat dari krim yang mengandung banyak lemak.
·         Bubuk whey, bubuk susu coklat, bubuk susu instant dan lain-lain.

Kasein
Kasein adalah protein yang paling banyak tersedia di susu. Protein ini relatif tidak bisa larut, lambat dicerna dan cenderung membentuk struktur yang disebut misel yang meningkatkankelarutannya di air. Sedangkan whey adalah protein yang cepat dicerna. Whey menyediakanhasil sintesa protein yang cepat karena Whey mengandung leusin dalam jumlah tinggi, yaituasam amino yang potensial untuk menstimulasi sintesa protein, sementara kasein menyediakanpasokan protein yang berkesinambungan lama untuk pertumbuhan otot. Protein dalam susu terdiri atas 80% kasein dan 20% whey.
Kasein termasuk jenis phospoprotein, terdiri dari beberapa unit asam amino yang terikatdengan ikatan peptida. Kasein di dalam susu merupakan partikel yang besar. Di dalamnya tidakhanya terdiri dari zat-zat organik, melainkan mengandung zat-zat anorganik seperti kalsium, phosphor, dan magnesium. Kasein adalah protein yang khusus terdapat dalam susu. Dalamkeadaan murni, kasein berwarna putih seperti salju, tidak berbau dan tidak mempunyai rasa yangkhas. Kasein dapat diendapkan oleh asam, enzim rennet dan alkohol. Oleh karena itu kaseindalam susu dapat dikoagulasikan atau digumpalkan oleh asam yang terbentuk di dalam sususebagai aktivitas dari mikrobia.


BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1       Alat dan Bahan yang digunakan
            Alat :                                                                                                    Bahan-bahan :
·         Beaker glass 100 ml dan 250 ml.                               - Susu UHT
·         Batang Pengaduk.                                                       - Cuka makan.
·         Penangas Air.                                                              - Soda Kue (NaHCO3)
·         Corong Kaca.                         
·         Kertas Saring Whatman.
·         Stirer dan Batang stirrer.
·         Kertas Indikator.
·         Gelas Ukur 100 ml dan 50 ml.

Penjelasan langkah Kerja
Susu UHT kemudian diambil sebanak 100ml dan direaksikan dengan cuka sebanyak 25ml didalam beaker glass kemudia dilakukan pengadukan yang konstan pada larutan tersebut. Pemanasan dilakukan hingga molekul didalam susu tersebut pecah dan terpisah menjadi dadih dan air dadihnya. Kemudian hasil dari pemanasan tersebut di saring menggunakan kertas saring. Setelah dadih nya diambil, masukan dadih tersebut kedalam beaker glass yang lain, dan ditambahkan dengan sedikit air. Kemudian ditambahkan Soda kue kedalam nya hingga pH dari larutan tersebut menjadi netral. Dan inilah Lem yang terbentuk. Uji ketahanan lem tersebut dilakukan dengan cara merekatkan kedua buah stik kayu dengan jarak 2cm pada masing – masing kayu. Kemudian dilakukan perekatan. Setelah kering, maka kayu tersebut diletakkan pada suatu penopang untuk dapat dilihat seberapa kuat lem tersebut menahan beban suatu benda.

Hasil dan Pembahasan
4.1          Hasil Pengamatan
Lem yang dihasilkan berwarna putih dan sebanyak 50 gram. Lem tersebut mampu merekatkan dua buah stik eskrim dan mampu menangkat beban berat hingga seberat : 200 gram.

Pembahasan
Pembuatan lem ini menggunakan bahan baku susu UHT yang dipanaskan dalam heater untuk menghilangkan bakteri pengotor dari susu tersebut, namun karena susu yang digunakan adalah susu UHT jadi sangat sedikit kemungkinan susu ini mengandung bakteri perusak. Kemudian ditambahkan asam asetat (cuka makan) sebanyak 25 ml hingga terbentuk adanya gumpalan dan terpisah molekulnya. Rusaknya molekul susu ini dinamakan denaturasi protein, Denaturasi protein merupakan hilangnya sifat-sifat struktur lebih tinggi oleh terkacaunya ikatan hidrogen dari gaya-gaya sekunder lainnya yang mengukuhkan molekul itu. Perubahan struktur reversibel atau ireversibel dalam protein, yang menyebabkan protein kehilangan semua atau sebagian dari fungsi biologinya. Adapun faktor-faktor penyebab denaturasi protein diantaranya pengaruh/perubahan pH, perlakuan pemanasan, perlakuan kimiawi. Penambahan asam asetat disini jg dimaksudkan agar protein kasein yang terkandung didalam susu mencapai titik isoelektriknya. Sehingga menyebabkan protein ini mengendap, namun pada praktikum yang kami lakukan, protein susu pada susu UHT sangat sulit rusak (terdenaturas) hal ini disebabkan kar­ena proses pembuatan susu UHT yang mengedepankan kualitas susu dengan cara pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang cepat, menyebabkan molekul didalam susu nya masih sangat bagus dan terjaga, sehingga denaturasi ini sangat sulit terjadi.
Kemudian, setelah pemanasan dan penambahan asam. Kami menyaring susu tersebut karena walaupun tidak terlihat rusak, setelah dilakukan penyaringan kasein tersebut telah mengendap dan tersaring di kertas saring sebagai dadih. Dadih tersebut kemudian diambil dan dilarutkan pada sedikit air dan dinetralkan dengan basa lemah seperti soda kue dan terbentuk gumpalan gumpalan kecil saat direaksikan. Penambahan basa lemah ini untuk menetralkan lem tersebut karena lem berfungsi pada sifat semicair dan pada kondisi netral.
Pengujian lem tersebut dilakukan dengan cara merekatkan kedua buah stik dan dikeringkan lalu dilakukan tes seberapa kuat lem tersebut dengan cara ditopangkan dengan sebuah benda. Hasilnya lem tersebut mampu menopang benda tersebut hingga beban 200 gram, lem ini masih lemah karena kasein yang terdapat pada susu belum terisolasi secara sempurna. Didalam kasein, Kasein merupakan partikel yang besar. Di dalamnya tidakhanya terdiri dari zat-zat organik, melainkan mengandung zat-zat anorganik seperti kalsium, phosphor, dan magnesium. Keberadaan zat-zat anorganik inilah yang menyebabkan adanya pertukaran antara ion positif dan negative antara lem dengan media perekat yang membantu perekatan kedua buah benda.




BAB V
Kesimpulan dan Saran
5.1       Kesimpulan
            Kesimpulan yang kami dapatkan adalah :
·         Lem dapat dibuat menggunakan susu yang memiliki kadar protein tinggi.
·         Penambahan asam dilakukan untuk mendenaturasi protein dan menurunkan pH hingga isoelektrik.
·         Susu UHT merupakan susu yang sangat sulit rusak molekul proteinnya.
·         Lem tersebut berwarna putih dan bersifat semicair yang mampu menahan beban 200gram.
5.2       Saran
Jika ingin membuat lem dari kasein, maka gunakan lah susu bubuk yang molekul didalam nya mudah terdenaturasi. Dan cobalah menggunakan basa lemah yang lain selain soda kue tersebut.

Daftar Pustaka
·         Saleh, Eniza. 2004 . Jurnal Teknik Pengolahan Susu dan Hasil ikutan ternak. Program studi Produksi Ternak fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
·         Miskiyah.2009. Jurnal Kajian SNI susu cair Indonesia. Balai besar penelitian dan pengembangan pasca panen pertanian.
·         David, A.Kaltz. 2004. Elmer’s Glue From Milk. Permission for classroom use as long as original copyright is included.














Tidak ada komentar:

Poskan Komentar